Sistem Komunikasi Indonesia

Sistem Komunikasi Indonesia dalam Pandangan Agama dan Budaya Bangsa


1. PENDAHULUAN

Sebuah sistem sangat diperlukan bagi melancarkan mekanisme sub-sub sistem yang ada didalamnya. Sistem sangat membantu dalam memudahkan pencapaian tujuan. Sistem juga membangun kesamaan-kesamaan dari keserasian.
Di Indonesia dikenal beberapa bangunan sistem, misalnya Sistem Hukum Indonesia, Sistem Politik Indonesia, Sistem Sosial Indonesia, Sistem Budaya Indonesia, Sistem Ekonomi Indonesia dan sistem-sistem nilai lainnya yang dapat dijadikan pedoman dalam proses interaksi antar orang di Indonesia.
Dalam kehidupan komunikasi juga mulai dikenal dengan istilah Sistem
Komunikasi Indonesia. Dari sistem-sistem tersebut memiliki keterkaitan satu dengan lainnya, seperti pada pembahasan makalah ini yang memfokuskan pandangan agama dan budaya bangsa dalam pelaksanaan sistem komunikasi Indonesia.
Dengan merumuskan Sistem Komunikasi Indonesia maka kita akan memiliki sebuah bangunan sistem dalam berkomunikasi yang seragam dan menjadi ciri dan karakter bangsa Indonesia. Sehingga dengan jumlah penduduk yang lebih dari 200 juta jiwa tidak mustahil sistem komunikasi yang dibangun di Indonesia melalui konsep Sistem Komunikasi Indonesia itu akan menjadi sebuah sistem yang perlu dicontoh oleh negara-negara lain yang karakteristiknya sedikit banyak mirip dengan negara Indonesia.
Bangunan dari sistem komunikasi Indonesia itu akan berlandaskan pada pola komunikasi yang dikembangkan di Indonesia dengan perangkat nilai dan perundangan yang ada. Sebab pola komunikasi didalam suatu negara akan menentukan bangunan sistem komunikasi yang akan dikembangkan di negara ini.


2. POLA KOMUNlKASI

Pola komunikasi di dalam suatu negara selalu dipengaruhi oleh sikap dan pandangan hidup bangsanya sekaligus memberikan bentuk bagi falsafah komunikasi yang dianut dalam proses interaksi antar orang yang terjadi dinegara itu. Falsafah komunikasi yang dianut. pada umummya sejalan dengan sistem politik yang berlaku. Walaupun begitu, peran agama dan budaya juga sangat berpotensi dalam membentuk karekteristik sistem komunikasi itu sendri, mengingat bangsa Indonesia adalah bangsa yang berlandaskan BHINEKA TUNGGAL IKA, maka sistem komunikasinya haruslah sesuai dengan landasan itu sendiri.
Komunikasi mempunyai kemampuan menambah pengetahuan, merubah dan memperkuat opini, merubah sikap serta menimbulkan partisipasi secara individual maupun menambah sikap serta menimbulkan partisipasi secara individual maupun sosial. Keadaan ini sangat melibatkan pandangan agama dan budaya bangsa dalam membentuk pola komunikasi yang dalam penerapannya bersifat universal. Oleh karena itu, dalam mengimplementasikan kegiatan komunikasi haruslah sesuai dengan filsafat bangsa itu sendiri.
Bangunan filsafat komunikasi juga mengacu kepada kerangka empat
sistem yang telah disebutkan pada pengantar, dimana harus terdapat kesamaan pelaksanaan sistem antara sistem pemerintahan yang dianut dengan pelaksanaan sistem komunikasinya (Astrid, Filsafat Komunikasi, 1979).
Bila sistem budaya Indonesia meliputi kemajemukan tradisi dalam suatu daerah, maka sitem komunikasi juga akan bersifat majemuk karena objek dalam komunikasi adalah manusia-manusia yang memiliki budaya yang berbeda. Oleh karenanya, sistem komunikasi di Indonesia sangatlah unik dibandingkan dengan sistem komunikasi di negara-negara lain. Ini dikarenakan unsur-unsur budaya dan agama yang selalu dijadikan pengangan dalam mengimplementasikan setiap kegiatan masyarakat Indonesia, termasuk pula kegiatan interaksi yang sangat melibatkan komunikasi di dalamnya.


3. PERANAN AGAMA DALAM SISTEM KOMUNIKASI INDONESIA

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut. Agama di dalam penerapannya, khususnya di Indonesia dianggap sesuatu hal yang dipengang teguh oleh penganutnya sebagai pedoman hidupnya. Agama bukanlah hal yang sembarangan, seseorang akan sangat merasa marah bila agama yang ia anut diubah-ubah atau diselewengkan apalagi sampai-sampai dilecehkan oleh penganut agama lain. Oleh karenya, sistem komunikasi di Indonesia berperan sebagai kontrol sosial antar beda penganut agama dan juga menjadi sebuah pembelajaran bagi masyarakat untuk memposisikan keberadaan mereka dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat.
Agama Hindu merupakan agama tertua atau agama pertama yang dianut oleh masyarakat Indonesia sebelum menjadi suatu negara. Di dalam agama Hindu terdapat pantangan-pantangan yang tidak boleh dijalankan oleh penganutnya. Bila pantangan-pantangan tesebut tetap dijalankan oleh penganutnya, maka Dewa akan murka kepada masyarakat yang ada didaerah tersebut.
Bila keadaan seperti ini adalah sesuatu hal yang sangat sakral bagi penganut agama Hindu, maka sistem komunikasi yang ada di Indonesia haruslah mengimbanginya; dalam artian sistem komunikasi haruslah selaras dengan tata keagamaan yang ada di daerah itu.
Begitu juga dengan agama yang lain. Seperti halnya agama Islam, yang di dalamnya terdapat larangan-larangan bagi penganutnya untuk tidak melanggar syariat Islam (hukum Allah). Bila larangan-larangan tersebut dilanggar, maka orang tersebut akan mendapat hukuman dari Allah, baik itu hukuman di dunia maupun di akhirat. Hukuman di dunia; bila seorang penganut ajaran agama Islam mengambil yang bukan haknya (mencuri), maka sebagai hukumannya, tangannya akan dipotong. Oleh sebab itu, sitem komunikasi dituntut untuk menyesuaikan keberadaannya dengan agama-agama yang ada dengan tujuan melangsungkan proses sosialisasi interaktif masyarakat demi ke eksistensian dan kestabilan negara.
Sistem komunikasi haruslah mampu menjalankan perannya sebagai alat kontrol dalam kemajemukan agama di Tanah Air. Bila sistem komunikasi tidak menghiraukan agama yang dianggap penganutnya sebagai unsur dan nilai-nilai luhur, maka akan timbul konflik nasional, seperti pemberitaan/informasi yang disiarkan media bersifat melecahkan sebuah agama, karena pemberitaan ataupun informasi yang disalurkan media kepada khalayak merupakan salah satu komponen di dalam sistem komunikasi yang secara tidak langsung akan berdamapak bagi siapa saja yang mendapatkan informasi tersebut, maka pemerintah yang berwenang membuat undang-undang sebagai kekuatan hukum haruslah mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengan sistem komunikasi itu sendiri agar sistem komunikasi itu dapat mengisi daripada sistem-sistem yang lainnya. Seperti contoh di atas tadi; informasi atau pemberitaan pelecehan terhadap suatu agama akan berdampak kepada perpecahan/konflik di dalam negara itu sendiri.
Agama dapat juga dikatakan sebagai sistem kepercayaan, karena ajaran yang di syiarkan agama merupakan sebuah kepercayaan bagi penganut agama itu sendiri. Akan tetapi kepercayaan lebih dekat kepada budaya atau dapat dikatakan juga bahwa sistem kepercayaan merupakan sebuah unsur dalam sistem budaya. Oleh karena itu, sitem kepercayaan dan sistem budaya saling berkaitan dalam mempengaruhi jalannya sistem komunikasi.


4. PERANAN BUDAYA DALAM SISTEM KOMUNIKASI INDONESIA

Sistem Komunikasi Indonesia sangat erat kaitannya dengan Sistem Sosial Budaya Indonesia yang merupakan cerminan kehidupan masyarakat Indonesia dalam keseharian mereka. Banyak fenomena komunikasi di Indonesia yang setelah ditelusuri, selalu saja ada keterkaitan terhadap latar belakang budaya. Manusia sebagai pelaku budaya memiliki realitas psikis yang dipengaruhi oleh latar belakang kebudayaannya yang tercermin dari ekspresi sikap dan tingkah lakunya. Suatu kebudayaan baik dalam bentuk material maupun nilai dimiliki oleh suatu komunitas sosial tertentu yang memberikan ciri identitas kepadanya, sehingga individu yang berada dalam komunitas sosial tersebut memiliki identitas yang seragam walaupun mungkin intensitasnya berbeda-beda. Keadaan inilah yang pada gilirannya akan dapat menciptakan hubungan yang harmonis dan timbullah keserasian bahkan dapat pula menciptakan stabilitas.
Perbedaan latar belakang kultur memang dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda terhadap suatu objek yang ditafsirkan. Dalam proses komunikasi; objek yang menghubungkan pihak yang berkomunikasi adalah pesan. Penafsiran terhadap pesan dapat berbeda-beda. Oleh sebab itu diperlukan suatu pola tertentu agar dapat membentuk suatu gambaran yang sama terhadap suatu objek. Realitas sosial yang mempunyai sistem dan tata nilai yang jelas merupakan salah satu tujuan kegiatan komunikasi sesuai dengan pandangan hidup yang mendasari filsafat suatu bangsa. Hal ini baru akan terjadi bila proses komunikasi yang terjadi memenuhi beberapa unsur untuk sampai kepada realitas sosial tertentu.
Perkembangan dunia industri dan teknologi komunikasi dewasa ini, khususnya dalam kajian komunikasi massa memiliki implikasi khusus dalam menciptakan masyarakat yang well informed (peka informasi). Bahkan dengan munculnya media-media baru, banyak budaya luar yang masuk ke Indonesia tanpa mengalami filterasi terlebih dahulu. Misalnya saja fenomena perwajahan media cetak Indonesia yang semakin hari semakin bebas berekspresi dengan tak luput dari sentuhan-sentuhan sensualitas bahkan secara ekstrim mungkin telah mengarah pada pornografi. Hal ini tentu saja bertentangan dengan latar belakang budaya dan agama, khususnya budaya yang di dalamnya mengandung nilai-nilai agama Islam, seperti adat Aceh, Jawa, Minang, Melayu, dan lain-lain. Dalam adat Jawa mungkin ada pakaian kemben yang dalam aplikasinya menitikberatkan pada budaya sopan-santunnya/tatakrama. Sementara dalam soal berbusana, saya menganut paham Islam yakni agama saya, yang mewajibkan kaum perempuan untuk berpakaian sopan, bahkan menutup seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Pers bebas di Indonesia sedikit banyak berpotensi untuk menggeser norma-norma ketimuran Indonesia yang identik dengan sopan-santun budaya Jawa. Oleh karena itu, fenomena keterlibatan media massa di Indonesia perlu ditelaah dan diputuskan solusinya agar tidak melanggar norma-norma agama dan budaya bangsa yang telah tercantum di dalam Pancasila yang akan menjadi prasyarat demi terbentuknya Sistem Komunikasi Indonesia yang baik.
Selain itu, mengutip dari tulisan seorang Staf pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi 'Pembangunan' Medan dan Program Pascasarjana IAIN-SU Bidang Studi Komunikasi Islam, H. Kosky Zakaria dalam WASPADA Online Rabu, 19 September 2007 01:00 WIB. Ia mengatakan, budaya juga dapat mempengaruhi komunikasi dan bahasa karena penggunaannya yang berbeda pada masing-masing suku. Para pakar komunikasi terutama dalam hal komunikasi antarmanusia selalu melihat budaya sebagai titik tolak bagi orang-orang atau individu saat melakukan komunikasi sesama manusia yang memiliki latarbelakang budaya yang berbeda. Penggunaan bahasa sebagai sarana komunikasi juga kuat dipengaruhi oleh budaya masing-masing individu yang terlibat baik sebagai komunikator maupun komunikan. Para ahli komunikasi dalam hal penggunaan bahasa berkata bahwa 'bahasa bisa memenjarakan kita, namun bahasa juga bisa membebaskan kita.' Bahasa merupakan atau dapat dianggap alat interaksi dalam kehidupan kita. Bahasa memberi kerangka yang akan memberikan harapan-harapan kepada kita dan dengan demikian menimbulkan persepsi bagi para individu yang terlibat dalam komunikasi itu sendiri.
Sementara itu, bahasa dan komunikasi lisan bisa menciptakan kesalahpahaman atau salah mengerti, salah tanggap, namun bahasa lisan ini pun ada baiknya pula, yaitu dapat mengklarifikasi kesalahpahaman yang terjadi. Kita maklum bahwa setiap bahasa bisa dikatakan sebagai merefleksikan sistem yang menurut kita logis dan masuk akal. Bahasa sebagai suatu sistem simbol atau lambang bisa berubah kalau berkaitan dengan ide, perasaan, pengalaman, peristiwa dan fenomena lainnya dan dipengaruhi oleh aturan-aturan yang berlapis-lapis yang dikembangkan oleh masyarakat tertentu. Sebagaimana dinyatakan oleh ahli bahasa, bahwa bahasa manusia ini disusun atau ditata berdasarkan pada sekumpulan aturan yang disepakati, seperti fonologi (berkaitan dengan bunyi), morfologi (berkaitan dengan bentuk kata), sintaksis (berkaitan dengan penyusunan kata-kata menjadi suatu kalimat), kemudian semantik (berkenaan dengan arti kata), serta terakhir apa yang dinamakan pragmatis (memandang sesuatu menurut kegunaannya).
Kesimpulannya, sebagaimana dinyatakan oleh para ahli komunikasi yang menyatakan bahwa suatu komunikasi bisa berjalan dengan baik dan sempurna, masing-masing pihak seyogianya berada dalam suasana saling memahami dan mengerti apa yang dikomunikasikan. Komunikator dan komunikan, kata pakar komunikasi, berada pada sikap yang saling menghargai karena masing-masing pihak memahami pula latarbelakang budaya masing-masing peserta komunikasi. Oleh karena itu, sistem komunikasi haruslah memperhatikan keberadaan budaya sebagai tatanan kehidupan bangsa agar tidak terjadi kesalahpahaman di dalam berkomunikasi lintas budaya.

1 komentar:

Posting Komentar

Recent Comments